Latest News
Kumpulan Catatan Bisnis
Noer Rachman Hamidi
on behalf of www.nuraria.com
Call/SMS/WA: 0816-289719
Phn: 021-87782118 | Fax: 021-87782119
Email: nrachmanbiz@gmail.com
Chat_me: tawk.to/nrachmanbiz
Website: http://www.nrachman.biz
Facebook: facebook.com/nrachmanbiz
Fanpage: facebook.com/noer.rachman.hamidi

Cara membaca para Ulul Albab

Cara membaca para Ulul Albab
Tidak semisteri seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, mambaca yang tidak tertulis dan melihat yang tidak kasat mata ternyata merupakan bagian yang sangat penting dalam ajaran agama islam.

Sebagai contoh ayat yang pertama kali turun adalah Iqro' atau bacalah (QS 96:1) padahal Al Qur'an turun ke Nabi yang Ummi atau tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Jadi yang disuruh membaca apa? tentu bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Kemudian bagian keimanan pertama yang disebut di Al Qur'an adalah iman kepada yang ghaib (QS 2: 3).

Jadi kalau kita tidak bisa membaca yang tidak tertulis dan tidak bisa melihat apa yang tidak kasat mata maka kita akan kehilangan bagian terbesar dari ajaran agama ini dan juga kehilangan keimanan kita.

Untuk melihatnya lebih detail berikut saya berikan contohnya. Semua benda dan peristiwa sesungguhnya ada di ayat-ayatNya, tetapi karena Al Qur'an hanya sekitar 6000-an ayat atau sekitar 600-an halaman kitab tentu tidak cukup untuk menulis seluruh benda dan peristiwa tersebut.

Cukup dengan satu ayat yang tertulis kita sudah tahu bahwa semua benda dan peristiwa itu ada ayat-ayatNya. Berikut adalah ayatnya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal" (QS 3: 190).

Tetapi tentu membaca yang tidak tertulis ini lebih sulit dari membaca yang tertulis, maka Allah pun mengindikasikan bahwa yang bisa membacanya hanyalah orang-orang yang berakal. Lebih lanjut Allah juga memberi petunjuk bagaimana kita menjadi orang-orang yang berakal yang mampu membaca ayat-ayatNya bukan hanya yang tertulis tetapi juga yang tidak tertulis tersebut.

Perhatikan ayat berikut: "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi...." (QS 3: 191). Cara lain juga dilakukan dengan banyak mendengarkan perkataan yang baik dan kemudian mengikuti yang terbaik (QS 39:18).

Orang-orang yang mampu membaca ayat-ayatNya yang tertulis maupun yang tidak tertulis, yaitu orang-orang yang berakal (Ulul Albab) inilah orang-orang yang diberi hikmah dan orang-orang yang diberi kebaikan yang banyak: Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang membpunyai akal sehat" (QS 2: 269).

Jadi petunjukNya sangat jelas untuk kita bisa membaca bukan hanya yang tertulis tetapi juga yang tidak tertulis. Lantas bagaimana kita bisa "Melihat" apa yang tidak kasat mata?

Ayat-ayatNya sangat banyak, utamanya yang terkait  dengan hal-hal yang masih bersifat ghaib hingga saat ini, tetapi kita sudah diajari untuk "Melihatnya". Terkait keimanan kita misalnya, kita beriman kepada Allah dan hari akhir, keduanya tentu belum bisa kita lihat tetapi kita bisa melihat "keberadaan Allah" di setiap ciptaannya. Sedangkan hari akhir itulah bagian dari ujian keimanan kita untuk bisa "melihatnya".

Tetapi melihat yang tidak kasat mata juga bukan hanya yang terkait urusan keimanan tersebut. Kita juga diajari untuk melihat hal-hal yang masih ghaib tetapi sudah bisa "dilihat" oleh orang-orang yang diberi ilmu. Contoh yang menarik untuk ini adalah kisah ketika Nabi Musa berguru kepada orang yang berilmu yang hidup pada zamannya yaitu Nabi Khidr.

Nabi Khidr diberi ilmu oleh Allah untuk melihat hal-hal yang masih ghaib bahkan bagi Nabi sekelas Nabi Musa yang dia pernah berbicara langsung dengan Allah Sang Pencipta. Nabi Musa hanya melihat apa yang kasat mata, sedangkan Nabi Khidr mampu melihat apa yang tidak kasat mata.

Itulah sebabnya Nabi Musa tidak sabar ketika melihat Nabi Khidr melubangi kapal, membunuh anak laki-laki yang suci dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Nabi Musa tidak sabar karena dia tidak memiliki wawasan atau visi diluar dari apa yang bisa dilihat  oleh matanya saat itu.

Adapun Nabi Khidr dengan ijin-Nya mampu melihat apa yang akan terjadi kemudian, sehingga dia harus mengantisipasinya dengan melakukan apa yang harus dia lakukan. Adapun kapal yang dilubangi itu adalah karena dia melihat akan ada raja yang dzalim yang mengambil alih kapal-kapal yang baik. anak kecil yang masih suci dibunuh karena ketika dewasa dia akan cenderung akan membawa kekufuran orangtuanya. Sedangkan dinding yang ditegakkan adalah untuk melindungi harta anak yatim yang tersimpan dibawahnya.

Dalam dunia kekinian khususnya yang terkait usaha dan ekonomi, memahami apa yang tidak kasat mata ini juga sangat-sangat penting. Dalam bahasa sehari-hari kita harus mampu memahami "Why" nya, bukan hanya sekedar melihat "What" nya.

Dengan memahami "why" kita akan bisa berbuat antisipatif, mencegah keburukan atau kemudharatan yang belum terjadi, memberi solusi atas segala problem yang akan datang. Sedangkan bila kita hanya bisa melihat apa yang sudah kasat mata atau hanya bisa melihat "what" nya maka kita akan terkaget-kaget dengan berbagai masalah yang seolah-olah muncul tiba-tiba.

Jadi membaca yang tidak tertulis dan melihat yang tidak kasat mata, bukan hanya kemampuan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan para wali, tetapi juga diberikan oleh-Nya kepada kita-kita yang mau berusaha memahami petunjuk-prtunjukNya. Bahkan bila kita mampu terus meningkatkan ketaqwaan kita, ada kemungkinan juga kita mendapatkan ilmu langsung dari Allah atau ilmu ladduni seperti yang diberikan kepada Nabi Khidr.

peluang ini oleh Allah ditempatkan di akhir dari ayat yang paling panjang di Al Qur'an "...Bertaqwalah kepada Allah maka Allah akan memberimu ilmu..." (QS 2: 282). Wallahu A'lam...