Latest News
Kumpulan Catatan Bisnis
Noer Rachman Hamidi
on behalf of www.nuraria.com
Call/SMS/WA: 0812-8000-7019
Phn: 021-87782118 | Fax: 021-87782119
Email: nrachmanbiz@gmail.com
Chat_me: tawk.to/nrachmanbiz
Website: http://www.nrachman.biz
Facebook: facebook.com/nrachmanbiz
Fanpage: facebook.com/noer.rachman.hamidi

Membangun kemakmuran umat.

Membangun kemakmuran umat.
Disinilah ironi melihat negeri ini; ketika orang-orang di negeri yang tergolong miskin ikut menikmati makanan dari negeri-negeri yang tergolong kaya – mereka membayar sebagian dari ongkos makanan tersebut ke negeri kaya melalui system franchise dlsb. Sebaliknya ketika orang-orang kaya di manca negara menikmati menu dari negara-negara miskin, mereka tidak merasa perlu untuk membayar satu sen-pun ke negara miskin yang menghasilkan menu tersebut.

Inilah antara lain ketimpangan ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh system ekonomi kapitalis, dimana negara-negara yang maju dengan kapital yang kuat mampu mengatur orang lain untuk mengikuti systemnya. Melalui hak patent, intellectual property right dan sejenisnya mereka mampu menyedot hasil dari setiap makanan cepat saji yang dimakan generasi muda bangsa ini, setiap software yang kita gunakan di rumah maupun kantor-kantor kita, bahkan juga dari setiap mainan ‘game’ yang dimainkan anak-anak kecil di negeri seperti kita.

Lantas apa yang mereka lakukan yang kita tidak lakukan sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan ini ?. Salah satunya adalah apa yang disebut proses industrialisasi. Ambil contohnya pada perbandingan makanan-makanan dibawah.

Sebelum Hamburger, French Fries , Fried Chicken dan sejenisnya masuk ke pasar Indonesia, menu makanan-makanan tersebut telah menjadi industri di negaranya. Diantara karakter industri adalah adanya standar proses, standar mutu, kelengkapan dan kontinyuitas. Ketika anak kita makan hamburger di salah satu restaurant cepat saji tersebut misalnya, penyajiannya sama dari satu lokasi ke lokasi lain, waktu delivery-nya sama, rasanya sama dan seterusnya. Di sisi supply bahan baku berupa tepung, daging, saus, sayuran dan segala macamnya juga ada standar yang sama dan masing-masing komponen harus selalu ada di setiap menu.

Bisa saja istri-istri kita membuat makanan-makanan yang lebih enak dari restaurant cepat saji tersebut, tetapi proses industrialisasinya yang tidak mudah untuk membuat makanan yang enak tersebut dalam jumlah banyak setiap hari dan di seluruh negeri. Tetapi tidak mudah tidak berarti tidak mungkin, bila ada diantara kita yang mau bekerja keras secara team – maka sangat mungkin kita-pun bisa meng-industrialisasi-kan menu-menu makanan asal negeri ini yang terkenal dengan keragaman citarasa-nya ini.

Marilah kita mulai memikirkan hal-hal kecil tetapi insyaallah berdampak besar dalam konteks memberi makan di hari kelaparan, mumpung ini bulan puasa – kita dapat merasakan betapa tidak enaknya lapar. Bila industri-industri yang sebelumnya tidak terbayang-kan pun terbangun, lapangan kerja insyallah tercipta, ekonomi berputar lebih cepat, impor berkurang dan ekspor meningkat – maka disitulah kemakmuran insyallah akan datang.

Seandainya Allah kelak bertanya ke kita “ mengapa engkau biarkan tetanggamu, sekian banyak penduduk negerimu sampai kelaparan di bumiKu yang gemah ripah loh jinawi – yang didaalmnya semuanya telah Aku sediakan ?”, kita inginnya bisa menjawab “Sudah Ya Allah, Aku bekerja keras disiang hari, berdo’a kepadaMu di malam hari, ingin agar aku, keluargaku, tetanggaku dan masyarakat di negeriku terhindar dari rasa lapar karena miskin Ya Allah; mengenai hasil, itu kuasaMu jua yang menentukan Ya Allah...”. Aamiin.